Dari Belajar Membuat Kopi Sampai Jadi Owner Coffeeshop

Saat ini, saya sedang fokus mengembangkan usaha sendiri, yaitu Cafe-Kopivan. Setelah mendapatkan banyak pengalaman dalam dunia barista dan operasional cafe melalui program Agen Desa CSR PT BIB, saya merasa semakin percaya diri untuk membuka bisnis sendiri di bidang yang saya tekuni. Melalui Cafe-Kopivan, saya ingin menghadirkan konsep kedai kopi yang unik, dengan menyajikan kopi berkualitas menggunakan teknik penyeduhan yang telah saya pelajari. Selain itu, saya juga terus berinovasi dalam menciptakan menu baru dan menghadirkan pengalaman yang lebih personal bagi pelanggan. Dalam perjalanan membangun bisnis ini, saya juga belajar banyak hal baru, seperti manajemen usaha dan keuangan agar bisnis dapat berjalan dengan stabil, strategi pemasaran baik secara langsung maupun melalui media sosial untuk menjangkau lebih banyak pelanggan, serta meningkatkan pelayanan pelanggan agar setiap orang yang datang ke Cafe-Kopivan mendapatkan pengalaman yang menyenangkan dan ingin kembali lagi. Selain itu, saya juga ingin berbagi ilmu dengan orang-orang yang tertarik dengan dunia kopi, baik itu teman, rekan kerja, maupun komunitas yang ingin belajar lebih dalam tentang barista dan penyeduhan kopi.

Berawal dari Dapur sampai Berkembang ke Dunia Keuangan

Setelah sekitar tiga bulan bekerja di kitchen, saya diberikan kesempatan untuk beralih ke posisi admin di Cafe Suwara, yang lebih sesuai dengan latar belakang pendidikan saya di SMK pada jurusan Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran (OTKP). Saya merasa sangat senang dan nyaman karena akhirnya bisa bekerja di bidang yang sesuai dengan keahlian saya. Menariknya, ketika saya pertama kali melamar, posisi admin adalah yang saya inginkan, tetapi saya tidak lolos seleksi wawancara dan akhirnya ditempatkan di bagian kitchen. Namun, pengalaman di kitchen justru menjadi batu loncatan berharga

Hingga akhirnya, saya diberikan tantangan baru untuk bergabung sebagai staf keuangan di koperasi. Perpindahan ini membawa perubahan besar dalam cara saya berpikir dan bekerja. Saya belajar banyak tentang pengelolaan keuangan, pencatatan transaksi, serta bagaimana mengambil keputusan yang tepat dalam menghadapi permasalahan finansial. Tantangan demi tantangan membentuk saya menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bertanggung jawab. 

Selain pengalaman kerja yang sangat berharga, saya juga sangat bersyukur kepada CSR PT. Borneo Indobara atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mendapatkan beasiswa kuliah S1 di jurusan Teknik Pertambangan. Program ini menjadi motivasi besar bagi saya untuk terus berkembang dan berkontribusi lebih bagi masyarakat serta lingkungan sekitar. Sebagai agen desa, saya melihat program ini bukan hanya sebagai peluang kerja, tetapi juga sebagai wadah pembelajaran dan pengembangan diri. Saya percaya bahwa program ini akan terus mencetak generasi muda yang siap menjadi pemimpin di masa depan, baik dalam dunia kerja maupun komunitas mereka. Harapan saya, semakin banyak agen desa yang mendapatkan kesempatan seperti saya, sehingga kita bisa bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik

Mariati Menanam Asa, Perempuan Desa Mekar Mulya Menuai Harapan dari Budidaya Jamur

Di Desa Mekar Mulya, Mariati telah lama melihat realitas pahit yang dihadapi perempuan di sekitarnya. Sebagai seorang sekretaris desa sekaligus pembudidaya jamur, ia menyaksikan bagaimana banyak ibu rumah tangga dan buruh sawit bergelut dengan kondisi ekonomi yang sulit. Mereka bergantung pada pendapatan suami yang tak selalu stabil atau harus bekerja dengan jam kerja panjang di kebun sawit, sebuah pekerjaan yang berat dan menuntut fisik. 

Keadaan mulai berubah saat program PPM PT Borneo Indobara masuk ke desanya. Dengan dukungan berupa bahan baku untuk pembuatan baglog, pembangunan kumbung jamur, serta pelatihan intensif, Mariati dan kelompoknya mulai belajar bagaimana membudidayakan jamur dengan benar. Dari yang semula tidak mengenal teknik dasar, kini mereka mampu memproduksi lebih dari 500 kg jamur setiap tahunnya.

Dari 30 Ekor Puyuh Menjadi Ribuan, Kegigihan Agus Susanto Peternak Asal Desa Wonorejo

Di Desa Wonorejo, sebuah kisah inspiratif lahir dari kegigihan seorang peternak bernama Agus Susanto. Bertahun-tahun lalu, Agus memulai usahanya dengan hanya 30 ekor puyuh, sebuah jumlah yang terbatas dengan segala keterbatasan modal dan sarana yang ada. Namun, keyakinannya tak goyah. Baginya, setiap butir telur yang dihasilkan adalah harapan untuk masa depan yang lebih baik. Saat program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT Borneo Indobara hadir di desanya, Agus melihat secercah peluang. Dengan bantuan berupa bibit puyuh, kandang yang lebih layak, serta pelatihan dalam teknik beternak yang lebih baik, usahanya mulai berkembang pesat. Dari hanya puluhan ekor, kini Agus mengelola lebih dari 5.000 ekor puyuh yang menghasilkan lebih dari 1,4 juta butir telur setiap tahunnya. Pendapatan yang ia peroleh tidak hanya mencukupi kebutuhan keluarganya tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar