Dari Belajar Membuat Kopi Sampai Jadi Owner Coffeeshop

Saat ini, saya sedang fokus mengembangkan usaha sendiri, yaitu Cafe-Kopivan. Setelah mendapatkan banyak pengalaman dalam dunia barista dan operasional cafe melalui program Agen Desa CSR PT BIB, saya merasa semakin percaya diri untuk membuka bisnis sendiri di bidang yang saya tekuni. Melalui Cafe-Kopivan, saya ingin menghadirkan konsep kedai kopi yang unik, dengan menyajikan kopi berkualitas menggunakan teknik penyeduhan yang telah saya pelajari. Selain itu, saya juga terus berinovasi dalam menciptakan menu baru dan menghadirkan pengalaman yang lebih personal bagi pelanggan. Dalam perjalanan membangun bisnis ini, saya juga belajar banyak hal baru, seperti manajemen usaha dan keuangan agar bisnis dapat berjalan dengan stabil, strategi pemasaran baik secara langsung maupun melalui media sosial untuk menjangkau lebih banyak pelanggan, serta meningkatkan pelayanan pelanggan agar setiap orang yang datang ke Cafe-Kopivan mendapatkan pengalaman yang menyenangkan dan ingin kembali lagi. Selain itu, saya juga ingin berbagi ilmu dengan orang-orang yang tertarik dengan dunia kopi, baik itu teman, rekan kerja, maupun komunitas yang ingin belajar lebih dalam tentang barista dan penyeduhan kopi.

Mariati Menanam Asa, Perempuan Desa Mekar Mulya Menuai Harapan dari Budidaya Jamur

Di Desa Mekar Mulya, Mariati telah lama melihat realitas pahit yang dihadapi perempuan di sekitarnya. Sebagai seorang sekretaris desa sekaligus pembudidaya jamur, ia menyaksikan bagaimana banyak ibu rumah tangga dan buruh sawit bergelut dengan kondisi ekonomi yang sulit. Mereka bergantung pada pendapatan suami yang tak selalu stabil atau harus bekerja dengan jam kerja panjang di kebun sawit, sebuah pekerjaan yang berat dan menuntut fisik. 

Keadaan mulai berubah saat program PPM PT Borneo Indobara masuk ke desanya. Dengan dukungan berupa bahan baku untuk pembuatan baglog, pembangunan kumbung jamur, serta pelatihan intensif, Mariati dan kelompoknya mulai belajar bagaimana membudidayakan jamur dengan benar. Dari yang semula tidak mengenal teknik dasar, kini mereka mampu memproduksi lebih dari 500 kg jamur setiap tahunnya.

Dari 30 Ekor Puyuh Menjadi Ribuan, Kegigihan Agus Susanto Peternak Asal Desa Wonorejo

Di Desa Wonorejo, sebuah kisah inspiratif lahir dari kegigihan seorang peternak bernama Agus Susanto. Bertahun-tahun lalu, Agus memulai usahanya dengan hanya 30 ekor puyuh, sebuah jumlah yang terbatas dengan segala keterbatasan modal dan sarana yang ada. Namun, keyakinannya tak goyah. Baginya, setiap butir telur yang dihasilkan adalah harapan untuk masa depan yang lebih baik. Saat program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT Borneo Indobara hadir di desanya, Agus melihat secercah peluang. Dengan bantuan berupa bibit puyuh, kandang yang lebih layak, serta pelatihan dalam teknik beternak yang lebih baik, usahanya mulai berkembang pesat. Dari hanya puluhan ekor, kini Agus mengelola lebih dari 5.000 ekor puyuh yang menghasilkan lebih dari 1,4 juta butir telur setiap tahunnya. Pendapatan yang ia peroleh tidak hanya mencukupi kebutuhan keluarganya tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar

Interkoneksi Air Bersih

Dalam rangka meningkatkan akses air bersih bagi masyarakat, pada tahun 2024 diterapkan strategi Interkoneksi Air Bersih dan Potable Water dengan dukungan beberapa program turunan yang terintegrasi. Program ini tidak hanya bertujuan untuk memastikan ketersediaan dan keberlanjutan suplai air bersih melalui pengelolaan sumber daya yang lebih efisien serta peningkatan infrastruktur, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan future-fit society. Dengan membangun sistem interkoneksi air bersih, program ini berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang lebih mandiri dan berdaya, khususnya di wilayah tambang, dengan kualitas air yang lebih baik serta peningkatan taraf kesehatan. Selain itu, strategi ini juga berperan sebagai exit strategy dalam aspek akses air bersih, sehingga setelah masa operasional tambang berakhir, masyarakat tetap memiliki sistem pasokan air yang andal dan berkelanjutan. Strategi interkoneksi air bersih dan potable water ini didukung oleh dua program utama yang dirancang untuk membangun fondasi kuat dalam pengelolaan air bersih jangka panjang.

Pabrik Pakan

PT Borneo Indobara (PT BIB) berperan aktif dalam mendukung sektor peternakan dan perikanan di Kabupaten Tanah Bumbu melalui berbagai inisiatif strategis. Menyadari pentingnya kedua sektor ini dalam perekonomian lokal, PT BIB berupaya meningkatkan efisiensi produksi dan kesejahteraan peternak serta pembudidaya ikan, terutama dengan mengatasi tantangan utama: biaya pakan yang tinggi. Pada 2021, PT BIB memberikan bantuan mesin pembuat pakan sederhana berbahan bakar diesel kepada kelompok budidaya lele di Desa Karang Indah. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada pakan komersial yang harganya semakin mahal akibat dugaan monopoli pasar. Dengan pendampingan dan berbagai uji coba, kelompok budidaya tersebut berhasil merumuskan formulasi pakan yang sesuai dan memproduksinya secara mandiri dalam skala rumah tangga. Keberhasilan ini tidak hanya menekan biaya produksi, tetapi juga membuka peluang usaha baru dengan menjual pakan ke kelompok lain.

Desa Ramah Lansia

Program ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang inklusif bagi lansia dengan memastikan akses terhadap pelayanan kesehatan, dukungan sosial, serta kegiatan produktif yang sesuai dengan kondisi mereka. Desa Ramah Lansia juga berfungsi sebagai model dalam memperkuat peran komunitas dalam menjaga kesejahteraan kelompok lanjut usia. Dalam rangka menciptakan lingkungan yang inklusif bagi lansia, program “Desa Ramah Lansia” diimplementasikan di Desa Sumber Baru dan Mekar Jaya. Posyandu Lansia di Desa Sumber Baru terus menunjukkan peningkatan partisipasi dengan rata-rata 45 lansia hadir setiap bulan, bahkan mencapai 60 orang pada Maret lalu. Untuk memudahkan akses, layanan “Ojek Lansia” diterapkan guna menjemput mereka dari lokasi yang jauh